Senin, 29 Agustus 2016

KEPUSTAKAAN




A.  Sumber Arsip
1)      Nota 1932 W.B. HollmandalamAdatrechtsbundels, XXXVIII, hal. 375 etc.
2)      NotaBijdrage tot de Geschiedenis der KaroBatakstammen, BKI 1926.

B.   Sumber Buku
Anderson, Jhon. Mission to The East Coast Of Sumatra in 1823 New York : Oxford University Press 1971.
Arthur Chiller, A. The Formation of Federal Indonesia, The Hague/Bandung : W. van Hoeve Ltd, 1995.
Agustono, Budi. “Kehidupan Bangsawan Serdang, 1887–1946”, Yogyakarta : Tesis Sarjana Progam Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada, 1993.
Agusjaya Moenzir, Izharry Tengku Nurdin : Bara Juang Nyala Di Dada, Jakarta : Biografi Indonesia, 1998.
Abduh, Muhammad et.al. Pengantar Sosiologi, Medan : Fakultas Hukum USU, 1984.
Alam, Bachtiar. “Globalisasi dan Perubahan Budaya : Perspektif Teori Kebudayaan”, Jurnal Antropologi Indonesia, Edisi XXI, No. 50, 1998.
Budiardjo, Miriam. Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta : PT. Gramedia, 1977.
Buyung Nasution, Adnan. Terj.;The Aspiration For Constitutional Government In Indonesia : A Socio–Legal Study Of The Indonesian Konstituante 1956-1959, atau “Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia : Studi Sosio-Legal Atas Konstituante 1956-1959”, Pustaka Utama Grafiti, 1995.
Chandra Kirana, Kemala. “Geertz dan Masalah Kesukuan”, Dalam Prisma No.2 thn. Ke-xviii, Jakarta : LP3ES, 1989.
Dahrendorf, Ralf. Konflik dan Konflik dalam Masyarakat Indunstri : Sebuah Analisis Kritik,Jakarta : Rajawali Press, 1986.
Dunleavy, Patrick & Bremdan O’Leary. Theories of The State, The Politics of Liberal Democracy,London : Macmilan and Education Ltd, 1991.
Eisenstadt, S.N. Terj.;Revolution and The Transformation of Societies, atau “Revolusi dan Transformasi dalam Masyarakat”, Jakarta : CV. Rajawali, 1986.
Elster, Jon. Terj.;An Introductions To Karl Marx, atau Marxsisme : Analisis Kritis, Jakarta : PT. PrestasiPustaka Karya, 2000.
Feith, Herberth. The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia, New York : Cornell University Press, 1962.
Frederick, William H. & Soeri Soeroto. Pemahaman Sejarah Indonesia : Sebelum dan Sesudah Revolusi , Jakarta : LP3ES, 1991.
Geertz, Clifford. “The Integrative Revolution Primordial Sentiments and Civil Politic on the NewState”, dalam Cliffor Geertxz (ed), The Interpretation of Cultures, New York : Basic Books, 1973.
---------------------. ed.;“Ikatan-ikatan Primordial dan Politik Kebangsaan di Negara-negara Baru”, dalam Juwono Sudarsono, Pembangunan Politik dan Perubahan Politik, Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 1991.
Giddens,Anthony & David Held, Pendekatan Klasik dan Kontemporer Mengenai Kelompok, Kekuasaan dan Konflik,Jakarta : Rajawali Press, 1987.
Hakim, Abdul. Vol.1;. “Globalisasi, Modernitas dan Kemiskinan”, Jakarta : Indonesian Journal for Sustainable Future,2005.
Indera. ed.; “Peranan Deli Spoorweg Maatchappij Sebagai Alat Transportasi Perkebunan Di Sumatera Timur, 1883–1940” Buletin Historisme, No. 9 Bulan Januari. Medan : Jurusan Sejarah Fakultas Sastra USU, 1998.
--------. ed.; Peranan Deli Spoorweg Maatchappij Sebagai Alat Transportasi Perkebunan Di Sumatera Timur, 1883–1940” dalam Perkebunan Tembakau Deli, 1863–1891” Buletin Historisme, No. 11 bulan Januari Medan : Jurusan Sejarah Fakultas Sastra USU, 1999.
J. Pelzer, Karl. Terj.; Planter And Peasant, Colonial Policy And The Agrarian Strunggle In East Sumatera (1863-1947) atau “Toen Keboen  Dan Petani : Politik Kolonial Dan Perjuangan Agraria Di Sumatera Timur,  1863–1947.” Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1985.
Kartodirdjo, Sartono. Pemikiran dan Perkembangan Histografi Indonesia Suatu Alternatif, Jakarta :  Gramedia, 1982.
--------------------------. PendekatanIlmuSosialDalamMetodologiSejarah.Jakarta :Gramedia, 1992.

Kansil, C.S.T. Sistem Pemerintahan Indonesia, Jakarta : Bumi Aksara, 1985.
-----------------. Tata Negara, rev.ed.; Jakarta : Penerbit Erlangga, 1992, I.
Kranenburg, Ilmu Negara Umum, Jakarta : Pradya Paramita, 1983.
Luckman Sinar Basarshah II, Tuanku.Sari Sejarah Serdang, Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1970.
------------------------------------------------------.Sejarah Medan TempoeDoeloerev.ed.; Medan : LembagaPenelitiandanPengembanganSeniBudayaMelayu – MABMI, 1994.

------------------------------------------------------.JatiDiriMelayuMedan :LembagaPembinaandanPengembanganBudayaMelayu–MABMI, 1994.

------------------------------------------------------.AdatKontrakSosialAntara Raja Dan Rakyat KesultananSerdang.

Latiff Abu Bakar, Abdul. Melaka dan Arus Gerak Kebangsaan Malaysia, Kuala Lumpur : Universiti Malaya, 1996.
MagnisSuseno, Fransz.Etika Jawa : Sebuah Analisa Filsafi Tentang Kebijakan Hidup Jawa,rev. ed.; Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, 1996.
Mira Rozana Sinar, Tengku. “Peran Kesultanan Serdang dalam Pelestarian Adat Budaya Melayu Serdang”, Makassar : Makalah Seminar Dialog Budaya Komunitas Adat, 2007.
Munandar, Agus Aris. ed.; Sejarah Kebudayaan Indonesia. Religi dan Falsafah, Direktorat Geografi Sejarah,Jakarta: Departemen Budaya dan Pariwisata, 2007.
Malaka, Tan. Jild 1.;Dari Penjara Ke Penjara, Tanpa Penerbit, Tanpa Tahun.
---------------. Madilog : Matrealisme Dialektika dan Logika, Jakarta : Pusat Data Indikator, 1999.
Pemda DATI I Sumatera Utara. Sumatera Utara Membangun, Medan : PEMDA DATI I Sumatera Utara, 1982.
Pemkab Serdang Bedagai. Sejarah Kabupaten Serdang Bedagai, Sei Rampah : Tanpa Penerbit, 2000.
Reid, Anthony. The Blood of The People : Revolution and The End of Traditional Rule In Northeren Sumatra, atau “Perjuangan Rakyat : Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera”, terj. Team PHS Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1987.
Raya Purba Dasuha, Juandaha & Erond L. Manik. Kerajaan Siantar : Dari Pulou Holangan ke Kota Pematang Siantar, Pematang Siantar : Ihutan Bolon Hasadaon Damanik Boru Pakon Panagolan Siantar Simalungun, 2011.
Soenarko. Susunan Negara Kita Sejak Penyerahan Kedaulatan,Jakarta : Djambatan, 1951.
Smelser, Nel J. Theory of Collecive Behavior,New York : The Free Press, 1971.
Schwarzmantel, Jhon. The State in Contemporary Society an Introduction, New York, London, Toronto, Sidney, Tokyo, Singapore : Harvester Wheatseaf, 1994.
Soeri Soeroto, Frederick.Pemahaman Sejarah Indonesia : Sebelum dan Sesudah Revolusi Jakarta : LP3ES, 1991.
Sastoadmodjo, Sudijono. Perilaku Politik, Semarang : IKIP Semarang Pers, 1995.
Suprayitno. Mencoba (Lagi) Menjadi Indonesia, Yogyakarta : Yayasan Untuk Indonesia, 2001.
Tim Penulis Masyarakat Sejarahwan Indonesia dan Yayasan Kesultanan Serdang. Profil Sultan Shariful Alamshah–Sultan Kerajaan Negeri Serdang Ke-5, Medan: Yayasan Kesultanan Serdang, 2010.
Tim Pengumpulan, Penelitian dan Penulisan Sejarah Perkembangan Pemerintahan DATI I Sumatera Utara. Draf Sejarah Perkembangan Pemerintahan Propinsi Sumatera Utara1945–1950, Medan : Diklat Propsu, 1992.
William Liddle, R.  Ethnicity, Party and National Integration : An Indonesia Case Study, Yale University Press, 1970.
C.   Sumber Wawancara
1)      WawancaradenganTuankuLuckmanSinarBasarshah II, SH; Lokasi :rumah : JL. Abdulla Lubis No. 42/47 Medan, tertanggal 31 Maret 2001;
2)      wawancaradenganTengkuSyahrial; Lokasi : Pasar SintongBelawan, tertanggal 5 April 2001;
3)      WawancaradenganTengkuSyahrulLokasi : PekananSelesei, tertanggal7Mei 2001.

D.   Sumber Internet




BAB 6 : EPILOG




Pada bagian terdahulu telah dijabarkan tentang tata negara daripada Negara Kesultanan Serdang dari awal beridirnya hingga keruntuhan Negara Kesultanan Serdang ini. Dari konstruksi ini kiranya dapat diketahui bagaimana proses pembentukan Negara Kesultanan Serdang ini diikuti Sumber Hukum Materiil Daulat-Durhaka, Sumber Hukum Formal serta Asas Pembagian dan Kerjasama Kekuasaan, Negara dan Sistem Keneegaraan yang diterapkan, Ciri-Ciri Negara Negara KeSultanan Serdang, Sifat-Sifat Negara, Unsur-Unsur Negara, Wilayah, Tujuan dan Fungsi Negara, Kependudukan, Falsafah Negara Serdang : Adil di Sembah–Zalim di Sanggah dan Dasar Negara Kesultanan Serdang; Pemerintah dan Sistem Pemerintahan; dan yang terahir penjabaran pada bagian ini tertuju diseputar : Kelahiran dan Evolusi Pemerintahan, yang mendeskripsikan Bentuk Pemerintahan, Susunan Pemerintahan dan Sistem Pemerintahan.
Dari gambaran ini didapatlah bahwa Negara Kesultanan Serdang bukanlah merupakan Negara Kesatuan atupun Negara Serikat. Di Negara Kesultanan Serdang; Sultan tidaklah digambarkan sebagai seorang penguasa yang tanpa batas. Begitu juga Organ Negara Kesultanan Serdang. Pelajaran yang dapat diambil hikmahnya dari konstruksi Negara Kesultanan Serdang ini adalah terjadinya penerapan Demokratisai Islami yang memancarkan penagturan masyarakat yang dikatakan modren untuk seukuran di abad milenium ini.
Konsep Monarchieissme yang diterapkan merupakan Oligarki yang demokratis. Kekuasaan bukan dipisah-pisah dan bukan pula dibagi-bagi; tetapi kekuasaan menurut penerapan ini adalah terjadinya kerjasama (Gotong–Royong). Terlihat sepintas adanya strutur kerja Organ-Organ daripada Negara tetapi ini semata bukan praktek pemisahan kekuasaan ataupun kekuasaan itu dibagi-bagi; praktek yang diterapkan oleh Negara Kesultanan Serdang justru kekuasaan itu dikerjakan secara bersama, seolah-olah terlihat Lembaga yang satu dengan yang lainnya tumpang tindih.
Isu konflik kepentingnya bahwa bangsa yang satu menjadi bangsa yang tidak akan pernah dikalahkan menyebabkan terjadinya dampak buruk di Negara Kesultanan Serdang. Tradisi dunia yang berlaku saat itu adalah Kolonialisme plus Imprialisme sangat dipenagruhi kebutuhan akan pemenuhan Merkantilismenya. Gambaran yang terjadi–dipraktekannya sekenario mengaagung-agungkan kekuasaan dengan hiasan bertaburkan simbol-simbol kejayaan berupa kesamaan gaya hidup daripada bangsa pendatang dengan bermodalkan eksploitasi sumber daya alam maupun manusianya.
Penyanggah peradaban hegemoni Melayu yang sudah mulai terkikis jati diri nya–di coba untuk diperbaiki kembali, namun hal itu terlambat oleh karena hegemoni itu terlambat untuk dikembalikan oleh karena jati diri nya telah terlalu lama ditinggalkan oleh pemilik peradaban hegemoni Melayu itu sendiri.

BAB 6 : EPILOG




Pada bagian terdahulu telah dijabarkan tentang tata negara daripada Negara Kesultanan Serdang dari awal beridirnya hingga keruntuhan Negara Kesultanan Serdang ini. Dari konstruksi ini kiranya dapat diketahui bagaimana proses pembentukan Negara Kesultanan Serdang ini diikuti Sumber Hukum Materiil Daulat-Durhaka, Sumber Hukum Formal serta Asas Pembagian dan Kerjasama Kekuasaan, Negara dan Sistem Keneegaraan yang diterapkan, Ciri-Ciri Negara Negara KeSultanan Serdang, Sifat-Sifat Negara, Unsur-Unsur Negara, Wilayah, Tujuan dan Fungsi Negara, Kependudukan, Falsafah Negara Serdang : Adil di Sembah–Zalim di Sanggah dan Dasar Negara Kesultanan Serdang; Pemerintah dan Sistem Pemerintahan; dan yang terahir penjabaran pada bagian ini tertuju diseputar : Kelahiran dan Evolusi Pemerintahan, yang mendeskripsikan Bentuk Pemerintahan, Susunan Pemerintahan dan Sistem Pemerintahan.
Dari gambaran ini didapatlah bahwa Negara Kesultanan Serdang bukanlah merupakan Negara Kesatuan atupun Negara Serikat. Di Negara Kesultanan Serdang; Sultan tidaklah digambarkan sebagai seorang penguasa yang tanpa batas. Begitu juga Organ Negara Kesultanan Serdang. Pelajaran yang dapat diambil hikmahnya dari konstruksi Negara Kesultanan Serdang ini adalah terjadinya penerapan Demokratisai Islami yang memancarkan penagturan masyarakat yang dikatakan modren untuk seukuran di abad milenium ini.
Konsep Monarchieissme yang diterapkan merupakan Oligarki yang demokratis. Kekuasaan bukan dipisah-pisah dan bukan pula dibagi-bagi; tetapi kekuasaan menurut penerapan ini adalah terjadinya kerjasama (Gotong–Royong). Terlihat sepintas adanya strutur kerja Organ-Organ daripada Negara tetapi ini semata bukan praktek pemisahan kekuasaan ataupun kekuasaan itu dibagi-bagi; praktek yang diterapkan oleh Negara Kesultanan Serdang justru kekuasaan itu dikerjakan secara bersama, seolah-olah terlihat Lembaga yang satu dengan yang lainnya tumpang tindih.
Isu konflik kepentingnya bahwa bangsa yang satu menjadi bangsa yang tidak akan pernah dikalahkan menyebabkan terjadinya dampak buruk di Negara Kesultanan Serdang. Tradisi dunia yang berlaku saat itu adalah Kolonialisme plus Imprialisme sangat dipenagruhi kebutuhan akan pemenuhan Merkantilismenya. Gambaran yang terjadi–dipraktekannya sekenario mengaagung-agungkan kekuasaan dengan hiasan bertaburkan simbol-simbol kejayaan berupa kesamaan gaya hidup daripada bangsa pendatang dengan bermodalkan eksploitasi sumber daya alam maupun manusianya.
Penyanggah peradaban hegemoni Melayu yang sudah mulai terkikis jati diri nya–di coba untuk diperbaiki kembali, namun hal itu terlambat oleh karena hegemoni itu terlambat untuk dikembalikan oleh karena jati diri nya telah terlalu lama ditinggalkan oleh pemilik peradaban hegemoni Melayu itu sendiri.