Senin, 29 Agustus 2016

PENGANTAR


 
Tata Negara Kesultanan Serdang dirancang untuk memperkuat kompetensi antar negara-negara Melayu di Kawasan Sumatera Timur dari sisi Keberadaan Negara, Sumber Hukum Tata Negara, danNegara serta Sistem Keneegaraan maupun Pemerintah dan Sistem Pemerintahannya secara utuh. Keutuhan tersebut menjadi dasar dalam perumusan kompetensi arah dan strategi yang akan hendak dibawa kemana Negara Kesultanan Serdang ini, sehingga kompetensi antara Wilayah Pusat (Istana) dan Wilayah BagianNegara Kesultanan Serdang (Rantau, Taklukan dan Jajahan) dirancang mengikuti rumusan bersama daipada Negara Kesultanan Serdang tersebut.
Tata Negara Kesultanan Serdang yang disajikan dalam buku ini juga tunduk pada ketentuan tersebut. Tata Negara Kesultanan Serdang bukan berisi materi rekonstruksi yang dirancang hanya untuk mengetahui hanya keberadaan Negara Kesultanan Serdang saja. Tata Negara Kesultanan Serdangmerupakan pengungkapan dari kehendak sejarah yang berpedoman kepada apa, dimana, bagaimana, mengapa dan siapa sebenarnya Negara Kesultanan Serdang itu yang membekali pembaca dengan pengetahuan tentang dimensi ruang-waktu perjalanan Sejarah Tata Negara Kesultanan Serdang; keterampilan dalam menyajikan Tata Negara yang dikuasainya secara konkret dan abstrak, serta sikap menghargai jasa para pendiri Negara Kesultanan Serdang yang telah meletakkan pondasi bangunan Negara Kesultanan Serdang beserta segala bentuk warisan sejarah, baik benda maupun takbenda. Sehingga terbentuk pola pikir penerus bangsa yang sadar sejarah.
Sebagai pengetahuan wajib yang harus diambil oleh semua komponen masyarakat yang sekarang ini mendiami bekas reruntuhan Negara Kesultanan Serdang yang belum tentu berminat dalam bidang sejarah, buku ini disusun menggunakan pendekatan regresif yang lebih populer. Melalui pengamatan terhadap kondisi sosial-politik dan sejumlah warisan sejarah yang bisa dijumpai saat ini, masarakat diajak mengarungi garis waktu mundur ke masa lampau saat terjadinya peristiwa yang melandasi terbentuknya peradaban yang melatar-belakangi kondisi sosial-politik dan warisan sejarah tersebut. Pembahasan dilanjutkan dengan peristiwa-peristiwa berikutnya yang menyebabkan berkembang atau menyusutnya keberadaan Negara Kesultanan Serdang tersebut sehingga menjadi yang tersisa saat ini.
Buku ini menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan semua komponen masyarakat yang sekarang ini mendiami bekas reruntuhan Negara Kesultanan Serdang untuk mencapai pemahaman masa lalu yang diharapkan. Sesuai dengan pendekatan yang digunakan dalam Tata Negara Kesultanan Serdang ini, semua komponen masyarakat diajak menjadi berani untuk mencari sumber rekonstruksi lain yang tersedia dan terbentang luas di sekitarnya. Peran penulis dalam meningkatkan dan menyesuaikan daya serap semua komponen masyarakat yang mendiami bekas reruntuhan Negara Kesultanan Serdang ini dengan ketersediaan kegiatan pada buku ini sangat penting. Penulis dapat memperkayanya rekonstruksi daripada konstruksi dengan kreasi dalam bentuk kegiatan-kegiatan lain yang sesuai dan relevan yang bersumber dari penulis buku ini.
Implementasi terbatas pada pengetahuan semua komponen masyarakat yang mendiami bekas reruntuhan Negara Kesultanan Serdangmerupakan kekuatan penulis untuk merekonstruksi Tata Negara daripada Negara Kesultanan Serdang. Penelitian tersebut dipergunakan penulis semaksimal mungkin dalam menyiapkan buku untuk implementasi dan rekonstruksi menyeluruh pada Tata Negara Kesultanan Serdang. Buku ini merupakan cetakan pertama sebagai penyempurnaan daripada penelitian-penelitian yang penulis lakukan beberapa tahun ini. Buku ini sangat terbuka dan perlu terus dilakukan perbaikan untuk penyempurnaan. Oleh karena itu, Penulis mengundang para pembaca memberikan kritik, saran dan masukan untuk perbaikan dan penyempurnaan pada edisi berikutnya. Atas kontribusi tersebut, Penulisaturkan terima kasih. Mudah-mudahan kita dapat memberikan yang terbaik bagi kemajuan pengetahuan sejarah lokal dalam rangka mempersiapkan Generasi Tak Kan Hilang Melayu di Dunia.


Medan-Gang Hawa Komp. IAINSU, 6 Juni 2016
Penulis
Muhammad Alamsyah, S.S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar