Pada
bagian terdahulu telah dijabarkan tentang tata negara daripada Negara
Kesultanan Serdang dari awal beridirnya hingga keruntuhan Negara Kesultanan
Serdang ini. Dari konstruksi ini kiranya dapat diketahui bagaimana proses
pembentukan Negara Kesultanan Serdang ini diikuti Sumber Hukum Materiil Daulat-Durhaka, Sumber Hukum Formal
serta Asas Pembagian dan Kerjasama Kekuasaan, Negara dan Sistem Keneegaraan
yang diterapkan, Ciri-Ciri Negara Negara KeSultanan Serdang, Sifat-Sifat
Negara, Unsur-Unsur Negara, Wilayah, Tujuan
dan Fungsi Negara, Kependudukan, Falsafah Negara Serdang : Adil di
Sembah–Zalim di Sanggah dan Dasar Negara Kesultanan Serdang; Pemerintah dan
Sistem Pemerintahan; dan yang terahir penjabaran pada bagian ini tertuju
diseputar : Kelahiran dan Evolusi Pemerintahan, yang mendeskripsikan Bentuk
Pemerintahan, Susunan Pemerintahan dan Sistem Pemerintahan.
Dari gambaran ini didapatlah bahwa Negara
Kesultanan Serdang bukanlah merupakan Negara Kesatuan atupun Negara Serikat. Di
Negara Kesultanan Serdang; Sultan tidaklah digambarkan sebagai seorang penguasa
yang tanpa batas. Begitu juga Organ Negara Kesultanan Serdang. Pelajaran yang
dapat diambil hikmahnya dari konstruksi Negara Kesultanan Serdang ini adalah
terjadinya penerapan Demokratisai Islami yang memancarkan penagturan masyarakat
yang dikatakan modren untuk seukuran di abad milenium ini.
Konsep Monarchieissme yang diterapkan
merupakan Oligarki yang demokratis. Kekuasaan bukan dipisah-pisah dan bukan
pula dibagi-bagi; tetapi kekuasaan menurut penerapan ini adalah terjadinya
kerjasama (Gotong–Royong). Terlihat sepintas adanya
strutur kerja Organ-Organ daripada Negara tetapi ini semata bukan praktek
pemisahan kekuasaan ataupun kekuasaan itu dibagi-bagi; praktek yang diterapkan
oleh Negara Kesultanan Serdang justru kekuasaan itu dikerjakan secara bersama,
seolah-olah terlihat Lembaga yang satu dengan yang lainnya tumpang tindih.
Isu konflik kepentingnya bahwa bangsa yang
satu menjadi bangsa yang tidak akan pernah dikalahkan menyebabkan terjadinya
dampak buruk di Negara Kesultanan Serdang. Tradisi dunia yang berlaku saat itu
adalah Kolonialisme plus Imprialisme sangat dipenagruhi kebutuhan akan
pemenuhan Merkantilismenya. Gambaran yang terjadi–dipraktekannya sekenario
mengaagung-agungkan kekuasaan dengan hiasan bertaburkan simbol-simbol kejayaan
berupa kesamaan gaya hidup daripada bangsa pendatang dengan bermodalkan
eksploitasi sumber daya alam maupun manusianya.
Penyanggah peradaban hegemoni Melayu yang
sudah mulai terkikis jati diri nya–di coba untuk diperbaiki kembali, namun hal
itu terlambat oleh karena hegemoni itu terlambat untuk dikembalikan oleh karena
jati diri nya telah terlalu lama ditinggalkan oleh pemilik peradaban hegemoni
Melayu itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar